“Puncak adalah bonus, pulang dengan selamat adalah target utama.”

Hmmmm, kalimat di atas adalah semboyan para pendaki gunung yang mulai diabaikan sekarang (gak sekarang doang sih, dari dulu juga udah diabaikan). Kenapa? Karena kebanyakan dari mereka sudah menjadikan puncak sebagai target utama dan membahayakan diri mereka sendiri bahkan regu mereka juga. Kebanyakan mereka tidak mempertimbangkan resiko perjalanan yang akan mereka ambil pada saat melakukan summit attack (istilah kerennya muncak ke gunung) secara matang Рmatang.

Banyak dari pendaki sekarang kalau mendaki gunung tidak sampai ke puncak maka mereka akan merasa hina malu dan gengsi, mereka merasa lemah kalau diri mereka lemah daripada yang kalau tidak sampai puncak. Gengsi? iya, gengsi banget lah kalau kita gak muncak. Apalagi terus dicengin sama anak – anak satu rombongan.*Pengalaman pribadi banget kayaknya*. Ya, mau bagaimana lagi memang keadaan fisik tidak memungkinkan. Toh, gunung yang kita daki gak bakal kemana – mana kok.

“Masa’ sih gak muncak?”¬†

“Gituan doang kok gak muncak?”

“Cemen ah, gituan doang gak muncak”

Kalimat – kalimat sindiran di atas akan sering kita dengar ketika kita gak muncak. Dan dari kalimat – kalimat tersebut maka timbullah ego yang akhirnya harus membuat diri kita muncak pada trip selanjutnya. Apapun yang terjadi, dan meskipun nyawa taruhannya daripada menanggung malu dan gengsi. Yap, EGO adalah sesuatu yang dapat merusak semuanya, apabila tidak dikendalikan secara baik dan benar.

Kebanyakan pendaki berusaha menaklukkan alam demi kepuasan egonya sendiri dan demi sebuah pengakuan dari lingkungan sosial mereka, tanpa memikirkan resiko terhadap dirinya dan regunya. Dan melupakan tujuan utama mereka yang sebenarnya, yaitu pulang dengan selamat. Dengan cara apapun dan bagaimanapun kita tak bisa menaklukkan alam, essensi sebenarnya dari mendaki gunung adalah bukan menaklukkan alam tapi menaklukkan diri kita, ego kita, dan batas – batas kemampuan kita. Pada saat ini, banyak pendaki mulai melupakan essensi tersebut

Pengendalian terhadap diri kita, memahami arti hidup, memahami ciptaan Tuhan, dan akhirnya membentuk kita menjadi pribadi yang baik. Itulah tujuan dari mendaki gunung, karena mendaki gunung bukan tentang alam tapi tentang kita. Bukan alam yang ditaklukkan tapi diri kita dan ego kita lah yang harus ditaklukkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *