Banyak pendaki yang beristirahat sejenak di atas sini sambil menikmati padang bunga Verbena Brasiliensis Vell yang indah, setelah mereka melewati tanjakan curam yang sering mereka sebut Tanjakan Cinta. Tanjakan Cinta? Iya, sesuai mitos yang mereka percaya katanya tanjakan ini bisa mengabulkan permintaan jodohmu. Tapi bagiku mitos adalah mitos, tidak mungkin bisa dipercaya.

“Masih melakukan hal itu seperti tahun – tahun kemarin?”, tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Hal apa? Nyobain mitos tanjakan cinta seperti mereka? Udah gak, ternyata benar mitos adalah mitos.”, jawabku sekenanya.

“Bukannya dulu paling semangat kalo udah sampe sini. Jalan secepat mungkin dan gak mau nengok belakang, dan sambil berdoa kalo “dia” itu jodohmu. Hahahaha. . .”, tawanya sangat menjengkelkan.

Tak ku pedulikan ejekannya, dan aku kembali melamun. Tiba – tiba aku merasa sejauh apa pun kita berusaha kalau Tuhan tidak mengizinkan, maka hal itu tak bakal terjadi. Dan mempercayakan cintamu kepada sebuah tanjakan adalah hal yang paling bodoh.

“Memang bodoh ya.”, ucapannya mengejutkanku.

“Apanya yang bodoh?”

“Kita yang bodoh dan percaya saja dengan mitos itu. Aku dulu juga pernah mencobanya, tapi setelah aku pikir lagi. Bagaimana mungkin kami menjadi jodoh? Tuhan yang kami yakini saja berbeda. Dan tanjakan itu tak ada apa – apanya dengan Tuhan kita kan?”, dia menghela nafas.

“Tapi setidaknya kami menjadi sahabat yang baik, itu sudah cukup bagiku.” Dia tersenyum padaku.

Aku paham yang ia katakan. Ternyata ia juga melakukan hal sama, agar kita bisa bersatu menjadi sepasang kekasih. Tapi semua itu percuma, bagaimana kita akan bersatu? Kalau Tuhan kita saja berbeda.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *