Finally, kelar juga membaca novel Supernova yang terakhir. Yup, Intelegensi Embun Pagi sekuel ke-enam dari Supernova. Dan sekarang saatnya me-review sedikit tentang novel ini. *baru kali ini review buku diposting di web, biasanya mah kagak pernah*

Okey, kita mulai saja. Buku ke-enam dari Supernova ini berbeda dari yang lainnya. Perbedaan itu sudah terlihat dari cover buku ini, cover yang berwarna putih berbeda dengan buku – buku supernova yang sebelumnya berwarna hitam. Selain cover yang berwarna putih, buku ini terlihat lebih tebal dengan 700 halaman. Entah, kenapa sekuel terakhir dari setiap novel harus lebih tebal dari sekuel sebelumnya *masih menjadi misteri*. Meskipun tebal, aku membutuhkan dua hari untuk menyelesaikannya dengan nyuri – nyuri waktu luang di kantor. Sudah lama tidak melakukan hal itu, membaca novel tebal hanya dalam waktu satu atau dua hari. Mungkin karena rasa penasaran bagaimana ending dari cerita Supernova ini.

Untuk alur cerita sendiri, aku cukup terkena jetlag. Karena timeline dari novel ini cukup membuat pusing. Mungkin hal itu sendiri disebabkan hiatus yang cukup lama, lebih dari 10 tahun. Banyak yang miss mulai dari setting tempat dan situasi, dan hal ini membuatku harus membuka ulang seri – seri sebelumnya. Kebingungan terhadap sekuel juga ditambah dengan banyaknya karakter yang harus diikuti ceritanya. Ada sekitar 8 karakter yang menjadi pusat perhatian. But, hal itu tidak terlalu bermasalah di sini. Dan catatan penting, selalu ada kamus di sampingmu atau paling enggak buka google. Karena banyak bahasa – bahasa asing yang bakal bermunculan di setiap paragrafnya, meskipun disediakan glosarium di halaman belakang novel ini. Tapi gak nyaman juga kan bolak – balik halaman saat baca novel, apalagi novelnya setebel kitab.

Menurut aku novel ini mengobati kemonotonan dari seri sebelumnya, Gelombang, walaupun sedikit. Konfliknya cukup menarik tapi fokus dari cerita susah diikuti kalau bacanya tidak teliti, karakter yang menjadi fokus terlalu banyak. Bahkan karakter seperti Diva yang sebelumnya di KPBJ penting, malah di IEP menjadi karakter pelengkap. Sebaliknya dengan Gio, ia malah jadi karakter penting di IEP. Overall, novel ditutup dengan bagus dengan ending yang menurut saya pas. Walaupun banyak orang tidak suka dengan ending yang menggantung, tapi bagiku ending menggantung adalah ending yang pas untuk novel ini.

Dan bagi yang belum pernah baca serial Supernova, aku saranin untuk membacanya dari awal. Meskipun gak ada larangan untuk membaca secara acak. Karena novel ini lumayan susah untuk dicerna apabila tidak mengikutinya dari awal.

O ya, karakter terfavorit dari novel ini jatuh pada KELL, bule nomaden yang juga seorang infiltran. Karakter ini cukup menghibur dan he know how to enjoy life in his immortal life. Jadi aku adalah salah satu pendukung The chen-doll team. Hahahaha…

Kurasa cukup untuk review buku ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin disampaikan, masih ada rasa kosong dan penasaran tentang supernova. Tapi ya sudahlah. Dan mohon maaf ya kalo review-nya sedikit ngawur. Jarang – jarang aku review buku. Well, terima kasih buat mbak dee yang sudah melahirkan Supernova yang hebat ini. Semoga banyak novel – novel sci-fi atau apalah yang lahir dari penulis – penulis Indonesia.

Save

Save

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *