Era pembangunan, katanya
Desa – desa kecil di-upgrade
Sawah – sawah lenyap, menjadi beton – beton industri
Hutan – hutan tumbang di bawah raung bulldozer
Para petani perlahan disulap menjadi robot – robot pabrik
Beras, sayur, dan buah sirna, kita pun mengonsumsi limbah industri

Ekonomi sedang berkembang, katanya
Gedung – gedung bertingkat menjulang, menusuk mata para sarjana penganggur
Di dalam gedung itu, budak – budak industri mengais rejeki
Bukan untuk sesuap nasi, tapi untuk sesuap gengsi
Demi membeli sebatang mersi butut, mereka rela pulang pagi di kandang produksi
Demi membeli sebongkah berlian, mereka rela berpuasa senin kamis
Benar, ekonomi kita berkembang, daya beli meningkat,
Tapi apalah arti itu semua kalau kita sendiri tertipu, terjajah, dan diperbudak oleh industri impor
Menjadi boneka permainan para industri, memungut uang dari salah satu industri lalu memperkaya industri yang lain.

Lalu pendidikan,
Memperdagangkan teori abal – abal,
mematikan kreatifitas dan ide – ide kritis para generasi penerus
Membuatnya membolak – balik lembaran kertas riset demi selembar kertas, miris
Tak ada yang kritis, semuanya apatis
Otak dicuci menjadi robot penurut dan lupa dengan persoalan sosial di negeri ini

Pagi yang kelam, dan malam semakin kelam
Kabar burung yang ngaceng berseliweran melalui layar kaca
Ya, meskipun yang bikin ngaceng disensor
Tapi apa gunanya kalau moralitas dan tata krama perlahan menguap di depan layar kaca
Moral digerogoti melalui mata, otak dibikin ngaceng tanpa mempertontonkan adegan ngaceng
Drama – drama layar kaca menghiperbolakan drama kehidupan,
Media – media membual, mengigau tak jelas
Menjual prinsipnya untuk kesenangan pribadi
Demi kemajuan informasi, katanya
Demi kecerdasaan putra – putri bangsa ini, katanya

Lalu dari semua itu, mana yang disebut pembangunan?
Petani dikebiri, sawah diaspal, disemen
Generasi muda dihipnotis menjadi budak – budak industri
Informasi dimanipulasi, menipu pemirsa di rumah
Pembangunan macam apa ini?
Aku tanya sekali lagi, Pembangunan macam apa ini?

Hikmah Prahara | Kedoya, 20 Maret 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *