Kamis, 5 Mei 2016, akhirnya kita tiba di home stay Paiman, salah satu home stay yang ada di kawasan kaki gunung Kerinci. Perjalanan ke sini dari Padang cukup melelahkan, kita berada di mobil elf sekitar 8 jam. Tau sendiri kan rasanya kayak gimana duduk di mobil selama 8 jam *pantat panas dan keram*. Di home stay ini, kita bersiap – siap dan membeli beberapa logistik yang harus dilengkapi sambil menunggu porter yang belum nongol. Dari semua logistik yang harus dilenkapi, air mineral merupakan hal yang sangat sangat penting dalam mendaki gunung, apalagi di Kerinci sumber airnya sudah dekat terbatas.

nullPemandangan Gunung Kerinci dari Home Stay Paiman

Ada satu hal yang lucu di sini dan membuat sedikit kepalaku agak mikir keras. Hal lucu itu adalah saat aku membeli sarapan di warung dan tadaaaa!!!! si penjual ngomong pakai bahasa jawa. Okey, aku masih mencerna semua ini, dan berpikir kalau ini sudah di Sumatra dan bukan di Jawa. Tapi semua itu percuma, karena semua warga lokal di sini ngomong Jawa. Aku terbengong dan aku mbatin, “cuuuk, adoh – adoh nang sumatra moso’ yo ketemu wong jowo maneh”. Dan hal ini akan berlangsung untuk beberapa hari ke depan. Fix, aku terjebak di pulau Sumatra rasa Jawa.

Setelah semua siap, kita diantar dengan mobil colt ke pos R10. Dan untuk simaksi sendiri sudah diurus oleh penjaga Home stay, dengan biaya 7500/hari per orang. *cukup murah juga*. Kita mulai perjalanan dari Pos R10 sekitar pukul 11.00.

Pos R10

Dengan jalan yang (masih) cukup landai, kita sampai di pos 1 dengan waktu yang cukup cepat, sekitar 35 menit. Dan aku masih bisa berada di depan rombongan, maklumlah kalau jalan landai dan turun ngacir.

Papan Petunjuk di Setiap Pos

Keadaan masih aman dan terkendali, aku masih bisa mengimbangi speed rombongan yang lain. Kita beristirahat dan makan siang di pos 2. Di pos ini terdapat sumber air, lebih tepatnya tampungan air seperti bekas sungai yang menggenang. Posisi sumber air tersebut ada di bawah pos ini. Meskipun airnya sedikit tapi tetap saja menyegarkan. Kabarnya sumber air ini juga menjadi tempat mencari minum harimau sumatra dan hewan – hewan liar lainnya. Kita beristirahat cukup lama di sini, canda gurau masih terdengar. Tapi canda gurau itu akan sedikit sirna ketika memulai perjalanan menuju pos 3 dan seterusnya.

Perjalanan menuju pos 3 sudah mulai menanjak, dan ini artinya saatnya aku menjadi tim ngos-ngosan alias tim paling bekakang dari rombongan. *sedih banget jadi tim ngos – ngosan*  Track jalur ini seperti jalur Gn. Gede via Putri di kali dua, tau sendiri kan capeknya bakal bagaimana. Setelah berjalan – jalan ria selama 1 jam lebih, akhirnya sampai di pos 3 dengan ketinggian 2225 mdpl, lumayanlah naik 300 meter dari ketinggian sebelumnya.

Jalur dari Pos 3 menuju Shelter 1

Setelah cukup di pos 3, kita melanjutkan perjalanan menuju Shelter 1. Dan melihat jalur yang semakin menanjak, aku hanya bisa istighfar dalam hati. Ditambah dengan hujan yang mengguyur, membuat aku berjalan semakin lambat dan ketinggalan di belakang. Untung ada mbak ale, mas hafit, dan bang rendra yang menjadi tim ngos-ngosan, jadi aku tidak berjalan sendirian.

Jalan semakin menanjak dan nafas semakin pendek akibat diguyur hujan. Tapi semangat menuju Shelter 1 masih ada, kita berusaha mengejar rombongan yang di depan karena kita sudah mendapat kabar dari rombongan depan kalau mereka sudah sampai di Shelter 1. Dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, Shelter 1 pun kelihatan. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di tempat ini. Shelter 1 dengan ketinggian 2505 mdpl ini tak mampu menampung banyak tenda. Sehingga kita terpaksa mendirikan tenda di pinggir jalur. Kenapa kita nge-camp di Shelter 1, karena waktu itu sudah tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Shelter 2, sebab hari sudah malam dan kondisi kita yang masih kelelahan setelah diguyur hujan di jalur.

Papan Petunjuk di Shelter 1

Shelter 1

Akhirnya keputusan diambil, kita pun bermalam di Shelter 1 untuk memulihkan stamina. Dan keesokan harinya kita lanjutkan perjalanan langsung ke Shelter 3 untuk melalukan summit attack, dengan catatan semua cewek hanya membawa daypack. Dan untuk barang – barang yang tak perlu ditinggal di Shelter 1, adik porter yang akan menjaga barang – barang kita selama kita berada di Shelter 3. Untuk tenda kita membawa 3 saja dan sisanya juga ditinggal. Karena perjalanan menuju Shelter 3 adalah perjalanan terberat di gunung ini.

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *