Sebentar lagi tahun 2016 berakhir dan akhirnya postingan ini selesai juga. Postingan tentang perjalananku ke Danau Gunung Tujuh di Jambi. Maaf ya kalau postingan ini baru selesai, padahal tripnya sudah dari bulan Mei lalu. Maklum kejar deadline melulu.

Danau Gunung Tujuh merupakan danau yang berada di ketinggian 1950 mdpl. Danau ini di kelilingi oleh tujuh gunung sehingga namanya Danau Gunung Tujuh dan kawasan ini masih termasuk dalam Taman Nasional Kerinci dan Seblat. Biasanya danau ini menjadi tujuan alternatif setelah melakukan pendakian ke Gunung Kerinci. Konon katanya ini danau tertinggi di Asia Tenggara (Bukannya Ranu Kumbolo ya yang tertinggi? kan Ranu Kumbolo di atas 2400 Mdpl).

Gerbang masuk menuju Danau Gunung Tujuh

Pada bulan Mei aku dan teman – teman Awaspala melakukan pendakian ke Gunung Kerinci. Dan setelah kami turun dari Gunung Kerinci, kami menuju ke Danau Gunung Tujuh yang katanya trek-nya nyantai dan tidak terlalu nanjak. Tapi itu menjadi sesuatu yang fana, ternyata trek menuju ke danau tersebut hampir sama kayak trek menuju ke Ranu Kumbolo dan memakan waktu sekitar 2 – 3 jam.

Perjalanan menuju Danau Gunung Tujuh

Dengan trek yang memiliki tanjakan lumayan curam ditambah dengan dengkul yang masih kecapekan setelah turun dari Puncak Indrapura, rasanya ingin terbang pakai baling – baling bambu milik Doraemon untuk segera sampai di danau tersebut. Padahal kami mengiranya trek yang akan dilalui seperti jalan – jalan santai seperti menuju ke curug yang ada di puncak Bogor. Bahkan ada teman yang memakai sandal jepit dan akhirnya dia menyesal karena harus menghadapi trek tersebut.

Trek menuju Danau Gunung Tujuh

Tapi semua rasa capek dan nyeri di kaki pun hilang setelah sampai di Danau tersebut. Danau Gunung Tujuh benar – benar indah, sampai aku pun cinta kepada Danau ini. Dengan di kelilingan gunung – gunung yang tinggi, Danau Gunung Tujuh terasa sangat megah dan kabut pun menambah keindahan danau tersebut.

Keindahan Danau Gunung Tujuh yang tertutup awan
Selfie dulu lah.

Di danau ini kami beristirahat sambil menikmati pemandangan yang disuguhkan. Sebagian dari kami ada yang berenang dan bermain – main di danau, meskipun saat itu sedang gerimis. Di danau ini juga ada seorang bapak yang menyewakan perahu kecilnya yang berkapasitas kurang lebih 6 orang untuk mengelilingi danau, kita bisa menyewanya dengan harga Rp 10.000/orang.

Dan ternyata bapak itu tinggal di gubuk kecil di salah satu tepi danau. Selain menyewakan perahunya, beliau juga mencari ikan untuk dimakan. Beliau sekitar seminggu sekali pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan, seperti beras.

Kak Ithoh lagi ngobrol bareng bapak pemilik perahu
Berkeliling danau sambil naik perahu

Setelah kami bermain – main dan berfoto ria, kami makan siang dan bersiap – siap untuk kembali ke basecamp. Dan sebelum kita kembali ke basecamp pastinya kita foto – foto bersama. Dan setelah foto – foto bersama, kami pun kembali menuju ke basecamp karena besoknya harus kembali ke Jakarta.

Foto bareng dengan teman – teman dari Malaysia
Foto bareng dengan rombongan trip Kerinci

O iya, saat pertama kali sampai di Danau Gunung Tujuh, aku menjadi jatuh cinta dengan danau ini dan merasa ingin kembali ke danau ini suatu saat nanti. Semoga “pembangunan – pembangunan” yang dilakukan pemerintah tetap akan menjaga kelestarian dari danau ini, selain itu juga para wisatawan mampu menjaga kebersihan dari danau ini agar tetap bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *