“Maka hanya ada satu kata: Lawan!”

Familiar dengan penggalan kalimat itu? Kalimat itu adalah penggalan sajak dari puisi Wiji Thukul yang berjudul “Peringatan”. Dan untuk memperingati 20 tahun hilangnya beliau, ada sebuah film berjudul “Istirahatlah Kata – Kata” karya Yosep Anggi Noen yang menceritakan tentang masa pelarian seorang Wiji Thukul yang menjadi buronan pada jaman rezim Soeharto.

Sebelum melihat film ini kita harus terlebih dahulu tahu siapa Wiji Thukul itu, karena film ini tidak menampilkan informasi lengkap tentang latar belakang beliau. Sehingga bagi yang tak tahu siapa sosok Wiji Thukul maka akan merasa bosan saat melihat film ini. Film ini banyak menampilkan adegan kegundahan sang penyair pada saat masa pelariannya di Pontianak sekitar tahun 1996.

Dan saat aku melihat film “Istirahatlah Kata – Kata”, yang menjadi kesan pertama adalah entah kenapa tiba – tiba otakku secara otomatis memutar lagu “Hilang” milik Efek Rumah Kaca dan lagu tersebut berputar seperti soundtrack dari film ini. Mungkin karena pemeran Wiji Thukul, Gunawan Maryanto, membawakan perannya sangat apik, sederhana tapi penuh makna. Sehingga ia mampu menghidupkan kembali sosok si penyair cadel tersebut. Dan mampu membuatku terbawa alur kisahnya. Selain itu juga potongan – potongan sajak yang menjadi latar di setiap adegan membuatku sedikit merinding. Kegelisahan dan rasa sepi dapat dirasakan melalui potongan – potongan sajak tersebut.

Simbolisasi dari film ini menimbulkan kesan misteri tersendiri. Dan adeganĀ  – adegan yang ditampilkan sangatlah biasa dan tidak mengada – ada. Mungkin sutradara ingin menyampaikan kisah ini senyata mungkin kepada para penonton tanpa ada kesan drama sedikit pun.

Dan pada adegan dimana Wiji Thukul kembali ke Solo untuk menemui keluarganya. Hal yang cukup menyentuh adalah ketika Sipon bertemu kembali dengan suaminya dengan wajah yang ceria. Serta bagaimana perjuangan Sipon membantu Wiji Thukul agar tetap tidak diketahui keberadaanya di rumah merupakan salah satu gambaran bagaimana perasaan Sipon kepada Wiji Thukul saat ia menjadi seorang buronan. Dan film ini ditutup dengan musikalisasi puisi “Bunga dan Tembok” yang begitu indah.

Film ini memberitahukan kepada kita bahwa sebelum adanya jaman yang bebas berpendapat dan bersyair seperti sekarang, ada suatu jaman dimana pendapat dan syair – syair yang menyinggung sebuah kekuasan akan membuat hidup kita hilang. Seperti penyair cadel tersebut yang sekarang entah dimana ia berada, hilang tanpa jejak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *