Di liburan natal tahun kemarin (padahal baru seminggu yang lalu), pada awalnya aku tidak kepikiran untuk ikut jalan – jalan santai ini, tapi daripada bosan dan gak ngapa – ngapain pas liburan natal. Akhirnya aku memutuskan ikut ajakan untuk jalan – jalan ke Curug Lontar bersama bang Boim dan kawan – kawan. Seperti biasa sehari sebelum jalan – jalan aku menginap di rumah bang Boim, karena harus berkumpul pada pukul 06.00 pagi di Paledang. (maklum anaknya gak bisa bangun pagi)

Pukul 06.00 pagi, kita bertemu di Paledang tapi karena kebiasaan Indonesia yang suka ngaret, akhirnya kita jalan menuju lokasi pukul 07.15. Dari Paledang menuju ke Curug Lontar membutuhkan waktu sekitar 1,5 – 2 jam kalau tidak macet. Dan untungnya Bogor lagi bersahabat, mulai dari jalanan yang agak lancar dan tidak mendung. Di tengah jalan, kita sempat berhenti untuk mengisi perut yang kosong dengan Soto Mie karena belum sempat sarapan. Setelah mengisi perut, kita melanjutkan perjalanan. dan setengah jam kemudian kita sampai di tempat parkir untuk pengunjung Curug Lontar.

Aku mengira Curug ini berada di kawasan perkemahan. Tapi nyatanya adalah, Curug ini berada di belakang pemukiman warga dan masih jarang sekali orang –  orang berkunjung ke sini. Okey, Saatnya kita berjalan – jalan santai menuju Curug Lontar. Jalan setapak untuk menuju ke Curug tidak terlalu jauh, kita berjalan kaki sekitar 10 menit untuk mencapai ke Curug Lontar. Di sana ada beberapa anak – anak kampung yang bertugas untuk menarik biaya dari pengunjung. Satu orang dikenakan biaya Rp 5.000,- untuk masuk ke Curug Lontar.

nullAnak – Anak Penjaga Jalan ke Curug

nullJalan menuju ke Curug

Bogor saat itu sangat cerah dan panas. Tidak ada mendung sama sekali. Tapi meskipun panas, semangat untuk foto – foto tetap membara. Mumpung sepi, kita manfaatkan momen itu untuk foto – foto. Melihat air yang sangat banyak rasanya ingin nyebur dan renang tapi sayangnya di Curug Lontar kita dilarang berenang karena warga sekitar takut kalau ada kejadian yang tidak diinginkan.

null

null

null

Berfoto ria di Curug Lontar

Setelah puas berfoto – foto dan karena tidak kuat dengan panasnya matahari saat itu, kita memutuskan untuk pindah ke curug lain yang bisa dibuat untuk berenang. Akhirnya kita beres – beres dan kembali ke tempat dimana kita parkir motor. Dan di sinilah terjadi sesuatu yang konyol.  Beberapa dari kami sudah sampai di parkiran, tapi Bang Boim dan Bang Asep yang masih di bawah tiba – tiba memberitahu kalau ada curug yang bisa dibuat untuk berenang dan mau gak mau kita harus turun lagi sedangkan itu lumayan jauh dari Curug Lontar. Tapi namanya pingin mau bagaimana lagi, dan pada akhirnya kita memutuskan untuk turun lagi ke Curug Lontar dan menuju ke curug satunya yang tak bernama. Perjalanan menuju curug tersebut harus melewati jalur sungai dan ketika mendung kita harus segera balik ke atas.(Pesan dari bapak yang menjaga parkir).

null

null

null

Jalan menuju curug tanpa nama

Setelah berjalan di sungai kering selama 15 menit, kita sampai di curug tanpa nama yang bisa dipakai untuk berenang. Dan ada lahan buat gelar lapak untuk masak. Tanpa berpikir lama, beberapa dari kami langsung nyebur ke curug. Dan yang tidak ikut renang pun menyiapkan alat untuk memasak pop mie, kopi, dan pisang goreng.

null
Penampakan Curug tanpa nama
nullSiap – siap berenang
null Berenang
nullSantai dulu sambil makan kuaci
nullNunggu pisang goreng mateng

null

Setelah puas berenang dan bermain – main, kita pun beristirahat dan menyantap pisang goreng. Selain itu kita bersiap – siap untuk pulang karena matahari sudah sangat menyengat saat itu. Tidak lupa kami juga membersihkan sampah – sampah yang kita bawa. Sesampainya di tempat parkir, kami istirahat sejenak sambil ganti baju. Dan sekitar pukul 14.30 kami kembali ke Bogor dan pulang ke rumah masing – masing.

Sampai jumpa di trip selanjutnya, guys!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *