Akhirnya aku mencapai checkpoint terbaru dalam hidup ini, yaitu berada di umur seperempat abad. *Yeay!!!!!*. Aku bersyukur ketika Allah masih memberi kesempatan dan kesehatan sampai detik ini. Dan di sisi lain aku merasa sedih, karena sampai detik ini aku masih belum melakukan apapun untuk membahagiakan kedua orangtuaku. Malah akhir – akhir ini banyak melakukan dosa – dosa yang harusnya tidak aku lakukan. Yup, tahun kemarin di usia 24 tahun, aku banyak melakukan kemunduran. Jarang berkarya, prestasi gak ada, dan berbuat dosa malah banyak. Tahun kemarin adalah tahun penuh kejutan, tahun dengan kegilaan – kegilaan yang tak pernah ku sangka.

2 hari yang lalu, sebelum aku pulang kampung untuk merayakan ulang tahun bersama orang tua di Tuban. Aku diberi peringatan oleh Allah melalui meninggalnya seorang temanku yang dulu sempat bekerja di kantor yang sama. Beliau masih berusia muda selisih 3 tahun dengan aku. Beliau orangnya sangat ceria dan selalu memberikan kecerian kepada orang lain, bahkan setelah ia kehilangan buah hatinya yang saat itu masih berada dalam kandungan. Beliau tak pernah mengeluh, beliau selalu keliatan tegar dan menyebarkan aura positif ke sekitarnya. Saat aku melayat ke rumah beliau, aku berpikir dalam hatiku. Apa yang akan aku lakukan jika hal ini menimpaku saat itu juga. Orang tua masih belum bahagia, dosa masih banyak, prestasi belum ada, dan aku belum melakukan hal yang berguna untuk lingkungan sekitar. Di sepanjang jalan setelah melayat, aku memikirkan kalau aku mati saat ini juga, apa yang terjadi. Meskipun dalam mindset-ku, aku tak pernah takut untuk mati bahkan aku akan menerima dengan senyuman kalau aku mati saat ini juga. Tapi hal yang paling mengganjal di dalam hatiku saat mengingat-ingat kematian adalah apakah aku sudah menjadi orang yang baik? Apakah aku sudah menjadi orang yang berguna untuk lingkungan sekitarku? Dengan peringatan itu, aku merasa ulang tahun kali ini bukanlah hal yang harus dirayakan dengan kegembiraan tapi harus dirayakan dengan introspeksi diri sendiri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Karena kita tak akan pernah tahu kita akan meninggal di usia berapa.

Dan di usia yang ke-25 tahun ini yang katanya usia yang sudah bisa disebut sebagai orang dewasa. Aku berusaha untuk menjadi orang yang positif dalam segala hal, mulai dari tindakan sampai ucapan. Berusaha untuk menyebarkan kebahagian dan keceriaan ke lingkungan sekitar. Dan yang paling penting adalah ingin menjadi pribadi yang bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Intinya aku ingin meninggal sebagai orang yang selalu diingat namanya karena kebaikan yang pernah dilakukan selama aku hidup bukan sebagai orang yang jahat dan dibenci orang selama aku hidup.

Bicara soal kegilaan yang aku lakukan sebelum beranjak ke usia 25 tahun ini adalah resign dari kerjaan yang menurutku benar – benar nyaman banget lingkungannya. Dalam satu minggu aku langsung memutuskan untuk mengundurkan diri, karena mendapatkan tawaran pekerjaan yang bisa dibilang lebih baik dari yang sekarang. Dan aku juga perlu untuk keluar dari zona nyaman dan mencari tantangan baru dan yang paling penting adalah gaji baru. *eh* Sebenarnya banyak kegilaan yang aku lakukan tahun kemarin tapi hal – hal tersebut gak perlu diceritakan karena banyak dosanya di dalam kegilaan itu.

Semoga di usia ini aku bisa menghadapi segala rintangan yang ada sebagai orang dewasa. Dan omong – omong soal rintangan, rintangan yang paling nyata adalah pertanyaan “Kapan nikah?” dari orang – orang yang tak bertanggungjawab. Soal pertanyaan itu, aku kurang pandai menjawab tanpa harus menimbulkan nasihat dan cibiran yang terkadang bikin hati ini tersinggung. Tapi aku sudah memperoleh pencerahan tentang pernikahan dari obrolanku di Borobudur saat itu dan obrolanku dengan sahabat di kantor yang cukup menarik. Dan saat ini sikap yang aku ambil adalah “Let it flow”. Bukan berarti aku pasrah karena belum ada jodoh yang muncul, tapi yang dimaksud di sini adalah pernikahan bukan masalah sex saja seperti orang – orang yang sering kali bahas. Menurutku pernikahan adalah pilihan hidup yang benar – benar harus diperhitungkan dan dipersiapkan secara matang, bukan hanya dari segi finansial tapi juga dari segi mental pasangan yang hendak menuju ke pernikahan. Jadi yang perlu dilakukan adalah carilah banyak teman dan di situ Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang yang tepat. Jangan terlalu dipikirkan untuk masalah jodoh dan pernikahan, yang paling penting kita pikirkan sekarang adalah bagaimana kita bersikap dengan hidup yang telah diberikan oleh Tuhan, apakah kita sudah melakukan terbaik dan bersyukur dengan benar? Atau malah kita mengingkari nikmat yang Tuhan berikan kepada kita?

“Kita diciptakan di dunia ini oleh Tuhan pasti ada tujuannya. Kenapa kita lahir di sini, bertemu dengan orang – orang ini, melakukan hal ini. Semuanya ada tujuannya. Maka jadilah orang yang benar – benar tahu akan tujuan hidupnya, agar bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi oranglain.” – quote dari seorang sahabat

Inti dari semua ini adalah di usia 25 tahun ini aku harus menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan harus bisa meninggalkan dosa – dosa yang telah aku perbuat di tahun – tahun sebelumnya. Menjadi pribadi yang mampu memberikan energi positif ke lingkungan sekitar. Dan yang paling penting adalah membahagiakan orang tua. Semoga diberi kesabaran dan kesadaran untuk selalu mengingat kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan.

Bismillahirrohmanirrohim, Selamat datang seperempat abad. Semoga kau bersahabat dan mempunyai kejutan yang lebih indah dari tahun sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *