Sabtu pagi terbangun di waktu subuh dengan rasa lelah yang memuncak. Setelah lima hari kerja yang menguras energi dan pikiran, akhirnya Sabtu ini bisa lebih santai. Walaupun tetap harus datang ke tempat kerja nanti siang untuk mengurus beberapa hal sebelum benar-benar libur di hari Minggu.

Terlintas di pikiran untuk pergi ke suatu tempat yang sepi dan luas. Pantai! Lalu saya mengirim pesan singkat kepada seorang kawan dari kamar depan untuk ikut menemani dan dia mau. Dengan mata belekan dan pakaian seadanya tanpa lupa menggunakan jaket tebal, kami berdua menaiki sepeda motor melintasi jalanan selatan kota Bantul yang sepi dan dingin dalam diam. Inilah keuntungan memiliki kawan yang pasrah, diajak kemana-mana mau saja asalkan mbonceng dan tidak perlu mikir aneh-aneh dan tinggal bayar kalau perlu dana. Saya sedang malas pergi sendirian karena sedang malas dengan konsekuensi ditanya orang “Kok sendirian mbak?” atau dilirik orang karena duduk di tepi pantai sendirian atau terlintas di pikiran orang “Jangan-jangan mbak ini mau bunuh diri”. Ah jadi untuk menghilangkan kemungkinan tersebut saya harus pergi bersama seseorang.

Ketika kamu sudah mengenal tabiat kawanmu dengan baik, kamu akan tahu bagaimana kondisi kawanmu itu dan apa yang dia butuhkan disaat-saat tertentu. Seperti sekarang ini ketika saya membutuhkan ruang untuk menampung segala gundah gulana atau buncahan perasaan atau keruwetan pemikiran, namun tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, maka dia memilih untuk menemani dalam diam- dan hanya sedikit sekali berbicara, dan itu cukup. Perasaan aman karena ditemani dengan cara seperti ini merupakan salah satu bentuk dukungan yang menurut saya sangat efektif untuk memperbaiki mood.

Banyak pilihan pantai yang bisa disinggahi di pagi hari dengan gratis tanpa ditarik retribusi dan hanya membayar dua ribu untuk parkir. Kami memutuskan untuk mengunjungi pantai Baru karena bisa melihat sunrise dan suasananya tidak akan terlalu ramai.

Kami memilih untuk duduk ditempat yang menjorok ke bibir pantai. Pasirnya sedikit basah, namun kami bisa duduk beralaskan sandal sambil sesekali ujung kaki digelitik ombak yang datang dan pergi dengan tenang. Pasir hitam, dengan busa ombak putih. Seperti sedang melihat film bisu. Hanya terdengar suara angin dan debur ombak. Walaupun tetap saja didalam pikiran tetap terngiang berbagai hal, suara-suara entah darimana, dan perasaan gundah yang ingin sekali saya larung ke laut. Saya hanya terdiam dan kawanku mulai sibuk mengambil foto sambil mendengarkan musik lewat headset. Dia membiarkan saya menikmati suasana ini lebih intim.

Sadar tidak sih, manusia memiliki kecenderungan untuk melarikan diri? Entah hanya untuk sejenak atau mangkir selamanya. Jika dilihat dari sudut pandang positif, hal-hal yang berhubungan dengan “pelarian” di beberapa situasi justru akan membantu mengembalikan energi, memberi ide untuk menyelesaikan masalah, serta bisa digunakan untuk tahapan penyembuhan. Seperti yang saya lakukan sekarang ini, saya sungguh ingin membuang apa-apa yang mengganjal dalam hati dan pikiran dengan pergi ke suatu tempat yang menenangkan. Berdiskusi dalam diam dengan alam menurut beberapa orang yang tidak memahami akan menyebut ritual ini sebagai sebuah kegilaan. Namun bagi yang memahami, hal ini justru dianggap sangat wajar. Dari sudut pandang negatifnya, jika seseorang terlalu terlena untuk terus melakukan pelarian, mereka tidak akan bisa menyelesaikan masalah-masalah yang selama ini dihindari. Ketika mereka kembali titik nol, mereka akan menemukan masalah yang sama belum juga terselesaikan karena terus menerus dihindari. Di titik paling ekstrim dari sebuah pelarian adalah pelarian permanen. Pergi dari masalah itu secara total, berarti pergi dari dunia ini dengan kemauan sendiri, mengakhiri hidup. Pahami secara sadar bahwa dunia ini tidak akan disebut dunia jika tidak ada masalah di dalamnya. Berusahalah untuk selalu menerima dan menghadapi segala persoalan hidup, karena hanya dengan seperti itu manusia bisa bertahan.

Ini bukan kali pertama. Ritual yang saya nilai ampuh untuk membuat perasaan menjadi lebih baik, membuat saya tidak sadar sudah duduk menghadap laut sekitar satu jam lamanya. Lalu saya memutuskan untuk berdiri bertelanjang kaki, menggulung celana, dan bermain ombak. Ke pantai kalau belum “keceh” namanya belum mantai dong ya. Akhirnya senyum terukir di wajah dengan kelegaan yang entah datang darimana. Tidak lupa juga untuk mengambil beberapa foto sunrise dan pengunjung yang sudah mulai berdatangan. Ketika hari semakin siang dan pengunjung yang semakin riuh, kami pulang.

Rshjsmn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *