Bagaimana bisa kau hanya ingin dimengerti tapi tidak mau mengerti orang lain? Enak saja kau hidup seenak udelmu. Hidup itu timbal balik, baik-buruk, susah-senang. Jika ada orang lain yang begitu memahamimu, hargailah. Ketika kau paham bahwa dirimu itu susah dimengerti, apakah tidak sebaiknya kau bersikap lebih baik? Masih untung ada yang mau peduli denganmu.

Pengertian itu memang akarnya dari kepedulian. Kepedulian harus ada dulu. Jika tidak, bagaimana kamu bisa mengerti? Bayangkan ketika tidak ada kepedulianmu terhadap kawanmu yang sedang depresi. Kamu akan sulit mengerti sikap dia yang mudah marah, mudah tersinggung dan mungkin cenderung untuk menyendiri. Karena tidak ada kepedulian, kamu akan menyimpulkan bahwa sikap kawanmu ini memang buruk, tanpa melihat sebab di balik itu semua.

Basic life skill untuk bisa bertahan di dunia ini salah satunya ya pengertian ini. Ketika kita pengertian, kita bisa lebih sabar dan toleran. Secara tidak langsung akan membuat kita melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang, tidak hanya melihat dari kacamata kita. Kita menjadi lebih peka dalam memilih sikap.

Tulisan ini juga untuk membuat saya sendiri berkaca. Ketika ekspektasi melambung terlalu tinggi, dan kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka rasa pengertian berperan penting. Rasa pengertian membuat diri kita tidak terlampau kecewa. Saya masih belajar untuk mengontrol ekspektasi. Sejujurnya ekspektasi yang muncul sebenarnya bukan karena tanpa usaha dari diri saya sendiri, tapi cara dunia berjalan memang tidak seperti itu. Seringkali ketika kita sudah berusaha, kita ditampar dengan kenyataan bahwa apa yang kita inginkan jadi terlampau jauh tak teraih. Akibatnya ya itu, kecewa, marah, sedih, hilang rasa kepercayaan diri..

Manusia cenderung untuk membuat berbagai macam skenario di kepalanya sendiri terhadap sesuatu yang dia harapkan. Hal sederhana misalnya ketika sedang traveling ke suatu kota, saya sudah mengatur akan bertemu dengan seseorang. Saya sudah berencana ingin berjumpa dimana, makan dimana, mengunjungi tempat apa, memastikan saya tidak ada janji lain, memastikan bahwa saya tepat waktu dan hal-hal lain yang saya usahakan. Namun ketika di hari H perjumpaan ternyata seseorang tersebut harus memenuhi kewajibannya untuk bekerja dadakan, dan tidak bisa pergi bertemu dengan saya, tentu saja rasa yang pertama muncul adalah rasa kecewa. Wajar bukan? Tapi ketika saya mengerti bahwa dia melakukannya karena suatu kewajiban penting, maka saya pun pada akhirnya akan merasa baik-baik saja. Kecewanya disimpan, ekspektasinya dihilangkan, dan fleksibel untuk mengubah rencana kunjungan. Lagipula, perjalanan tak melulu bisa sesuai rencana.

Jadi, rawatlah kepekaan rasa pengertian dalam dirimu untuk membuatmu bisa lebih mencintai dirimu sendiri.

Rshjsmn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *